Makna Natal

Lukas 1:67-69

Ada seorang yang menulis dalam sebuah artikel tentang Natal, tulisan itu berjudul: Natal itu berbahaya. Pertanyaannya mengapa Natal berbahaya? Ada dua alasan, pertama Natal itu berbahaya kalau sudah dijadikan komersil, mengapa? Karena orang hanya mencari keuntungan saja. Itu sebabnya kalau Natal sudah dikomersilkan, itu sesuatu yang berbahaya. Kedua, Natal berbahaya kalau sudah menjadi materialisme. Biasanya orang dalam menyambut Natal, selalu keinginannya baju baru, celana baru, sepatu baru. Natal menjadi berbahaya kalau sudah dijadikan materialisme artinya melebihi hati yang baru. Buat apa kita terjebak dengan tampilan-tampilan kalau hati kita tidak baru. Keinginan manusia itu pada prinsipnya tidak pernah terpuaskan. Orang punya mobil satu kemudian ingin memiliki dua, orang punya rumah satu kemudian ingin memiliki dua, punya pabrik satu kemudian menginginkan dua. Yang namanya keinginan itu tidak pernah terpuaskan. ltu sebabnya kalau kita membeli sesuatu pikirkanlah apakah itu keinginan atau kebutuhan? Sebab sekarang ada roh yang luar biasa yang sedang bekerja yaitu roh materialisme. Ciri dari pada roh ini adalah orang membeli barang bukan lagi didasari pada kebutuhan tetapi karena keinginan. Roh ini berbahaya sebab keinginan tidak terpuaskan karena itu orang yang ingin terus tidak pernah peduli pada orang lain. Jangan harapkan orang jadi berkat buat orang lain, kalau hanya mengurusi dirinya terus. Ketiga, Natal itu berbahaya sebab Natal memberi harapan semu bagi para Pendeta sebab kalau Natal, gereja menjadi penuh dan setelah Natal gereja menjadi sepi dalam arti waktu penuh persembahan naik, setelah selesai Natal persembahan turun lagi.

Tetapi pertanyaan bagi kita, Natal itu apa? Natal adalah Tuhan datang, tetapi kata Tuhan datang itu mempunyai makna: Lawatan turun. Israel itu adalah bangsa yang dipimpin oleh lawatan Tuhan, waktu mereka keluar dari lawatan, stabilitas keuangan, ekonomi, politik mereka menjadi kacau. Dan seharusnya hidup orang percaya harus dituntun dalam lawatan atau hadirat Tuhan sebab kalau kita keluar dari tuntunan maka akan menjadi kacau di semua sisi. Itu sebabnya kalau orang tidak hidup dalam lawatan, pasti akan dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Natal adalah Tuhan melawat kita. Pertanyaannya kenapa penting hidup dilawat Tuhan?

Pertama, orang kalau mengalami lawatan Tuhan karakter hidupnya pasti berubah. Di hadapan Tuhan yang paling penting itu bukan soal penampilan tetapi soal karakter sebab orang kalau karakternya kuat, menghadapi pertempuran apa saja ia akan menang. Roma 8:28 berkata: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Tujuan kekristenan adalah ini. Kenapa Yesus tidak turun dalam sebuah bangunan atau istana yang mewah tetapi Yesus turun dalam sebuah kandang yang sederhana. Sebenarnya ini adalah gambaran dari hati kita yang sesungguhnya. Itu sebabnya Yesus tidak tertarik untuk tinggal di sebuah fasilitas bangunan manusia yang hebat, tetapi Yesus tertarik tinggal didalam kita. Banyak orang membangun fasilitas Tuhan hadir, tetapi yang penting sebetulnya adalah bangunlah fasilitas Tuhan berdiam. Orang bangun fasilitas Tuhan hadir begitu luar biasa, itu tidak mengapa akan tetapi yang lebih penting adalah bangun fasilitas dimana Tuhan berdiam. Sebab Tuhan mau berdiam di dalam kita. Tanda orang hidup sungguh-sungguh didiami oleh Tuhan, karakter hidupnya pasti berubah. Tanda orang berubah, orang sekelilingnya pasti akan mengalami perubahan hidupnya. Membaca buku perubahan itu bagus, berdiskusi untuk berubah itu bagus, berpikir untuk berubah itu bagus, tetapi pertanyaannya apakah itu suatu perubahan? Tidak! Sebab perubahan adalah perubahan sampai terjadi suatu perubahan. Orang yang karakternya berubah, otoritas ilahi akan turun pada orang itu. Kenapa orang tidak memiliki otoritas? Jawabannya sederhana, karena tidak berubah. Otoritas kalau ada dalam hidup kita, tangan kita lakukan apa saja Tuhan menyertai, kaki kita melangkah kemana pun, Tuhan memberkati. Perubahan itu lebih penting dari semuanya, karena orang boleh hebat dalam apapun, tetapi jika hidupnya tidak berubah, nanti akan ketemu dengan satu kata yaitu “munafik”. Kata munafik berasal dari kata “Hupokrisis” yang berarti: “Pemain agama di atas panggung”. Kalau kita ingin diberkati oleh Tuhan milikilah karakter yang kuat. Kalau kita berubah, otoritas ilahi turun atas kita. Kita tidak perlu takut dengan pertempuran di luar, kalau Tuhan ada bersama kita, siapa yang dapat kalahkan kita?

Kedua, Natal adalah lawatan. Kenapa Lawatan terjadi? Supaya hidup kita bermakna. Makna hidup didapat ketika kita melakukan kehendak Tuhan. Yohanes 4:34-35 berkata: Kata Yesus kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Siapa yang hidupnya menjadi berkat, pasti hidupnya diberkati. Orang yang suka memberkati orang lain pasti diberkati Tuhan. Suka memberi makan orang lain karena Tuhan akan memberkati karena kalau orang yang tidak suka memberi makan orang lain, pasti suka “memakan” orang lain. Karena diluar banyak orang yang lapar suka cita, lapar damai sejahtera oleh karena itu bagikan diluar sana. Sebab itu kalau ada orang yang bunuh diri, karena kehilangan suka cita di dalam hati, kehilangan pengharapan karena itu kita yang punya bagikan itu. Makna hidup itu adalah melakukan kehendak Tuhan dimanapun kita berada. Kegagalan terbesar dalam hidup ini adalah orang berhasil tapi tugasnya salah. Natal artinya Tuhan melawat supaya hidup kita bermakna. Selama kita bernafas kerjakan yang terbaik. Oleh karena itu beri apa yang ada pada kita maka Tuhan memberi apa yang tidak ada pada kita. Amin.

Sumber: Warta Jemaat Gereja Duta Injil 30 Desember 2018