Sabat

Markus 2:27-28

Perkataan Tuhan Yesus dalam Mark. 2:27-28 membuat orang-orang Farisi merasa kaget dan marah sehingga mereka berniat ingin membunuh Yesus, karena mereka tahu Yesus adalah anak tukang kayu, anak Yusuf, berani berkata kalau Dia adalah Tuhannya hari sabat. Jelas perkataan Yesus membuat mereka marah. Kalau kita melihat awal mula dari hukum sabat itu ada pada saat Tuhan memberikan sepuluh hukum Allah kepada Musa di gunung Sinai dan perintah kuduskanlah hari sabat itu diletakkan di tengah-tengah dari hukum-hukum yang lain. Selanjutnya pada waktu Tuhan Yesus hadir kedalam dunia ini Dia merangkum semua hukum Allah itu menjadi dua yaitu dalam Mark. 12:30-31 Kasihilah Tuban, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Itu berarti hukum kuduskanlah hari Sabat tidak bisa dipisahkan dari hukum Allah lainnya artinya hukum itu tetap permanen dan berlaku sampai hari ini.

Dalam Kej. 2:1-3 menjelaskan bahwa Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya lalu memberkati hari itu dan menguduskannya. Kita perlu garis bawahi kata “memberkati” dan “menguduskannya”. Kalau kita perhatikan pada waktu penciptaan baik hari pertama sampai dengan hari keenam Allah selalu berkata jadilah petang dan jadilah pagi. Ini menunjukan waktu yang sama dengan saat ini yaitu waktu 24 jam. Berbeda dengan hari yang ketujuh Alkitab menjelaskan bahwa Dia berhenti untuk “memberkati” dan “menguduskannya” tetapi tidak ditulis jadilah petang dan jadilah pagi. Ini menunjukan waktu kekekalan bukan waktu 24 jam seperti saat ini. Dari pembacaan kitab kejadian memang kita tidak menemukan kata Sabat, hanya ditulis Tuhan berhenti. Dalam bahasa asli kata Sabat itu sendiri memiliki arti “berhenti/beristirahat”. Apakah Allah berhenti pada hari ketujuh dan tidak melakukan apa-apa? Tentu tidak. Apakah Allah merasa lelah setelah enam hari menciptakan langit bumi? Tentunya tidak, karena Dia Allah yang maha kuasa tidak bisa dibatasi dengan ruang dan waktu, Allah tetap bekerja melalui waktu kekekalan itu untuk “memberkati” dan “menguduskannya” sampai dengan saat ini. Jadi jelas Tuhan menciptakan Sabat untuk dirinya sendiri, karena di hari yang ketujuh Dia akan “memberkati” dan “menguduskannya”. Ini berlaku untuk selamanya.

Ketika Musa memimpin Bangsa Israel, Allah mengingatkan kembali tentang Sabat melalui sepuluh hukum Allah karena Tuhan juga mau Sabat itu bukan hanya untuk Dia tetapi juga untuk Bangsa Israel. Sejak saat itu kata kata Sabat muncul. dan Musa menetapkan bahwa setiap hari yang ketujuh semua bangsa Israel harus berhenti bekerja (Kel. 20:8-11) bahkan binatang pun harus berhenti bekerja (Kel. 23:12) dan dalam Imamat 25 dikatakan Tuhan memerintahkan Bangsa Israel untuk berhenti di setiap tahun yang ketujuh sebagai tahun pemberhentian karena Tuhan mau “memberkati” dan “menguduskannya”.

Sabat bukan saja dihubungkan dengan penciptaan tetapi sebagai suatu tanda antara bangsa Israel dan Tuhan, untuk memperingati pembebas mereka keluar dari Tanah Mesir dengan berkumpul untuk menyembah kepada Allah masuk dalam hadirat-Nya yang kudus, itulah Sabat bagi bangsa Israel. Namun Sabat yang Tuhan ciptakan itu dirusak oleh guru-guru agama, orang Farisi dan Ahli Taurat, mereka menambahkan hukum-hukumnya untuk kepentingan mereka sendiri sehingga menyimpang dari arti Sabat yang sesungguhnya dan itu bisa kita lihat ketika Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, mereka begitu marah kepada Yesus.

Saat ini kita akan belajar apa arti Sabat buat saudara dan saya setelah Yesus datang, mati dan saat ini Dia duduk disebelah kanan Allah Bapa. Perlu kita pahami Sabat yang sesungguhnya nanti ketika kita bertemu dengan Dia muka dengan muka itulah Sabat dalam kekekalan. Dalam kitab Ibrani 4:1-11 adalah suatu peringatan Tuhan atas kita tentang hari perhentian yaitu Sabat yang berlaku untuk kita pada hari ini dengan melihat perjalanan Bangsa Israel yang dituntun Allah keluar dari tanah Mesir tetapi mereka tidak berjalan dengan iman, tidak hidup dalam Roh dan berjalan dalam kebenaran sehingga mereka tidak masuk ke dalam pemberhentian. Ini peringatan bagi saya dan saudara jangan sampai kita tidak masuk kedalam pemberhentian atau Sabat seperti bangsa Israel. Orang-orang Farisi tidak mengerti tentang Sabat mereka tidak mengenal Yesus adalah Tuhan Sabat itu sendiri. Yesus adalah Sabat sesungguhnya yang “memberkati” dan “menguduskan” kita. Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit di hari Sabat Dia mau mengajarkan bukan saja kepada orang Farisi tetapi kepada kita juga bahwa apa yang terpenting dalam hidup kita apakah menaati hukum atau belas kasihan karena tanpa disadari kita juga sama seperti orang Farisi yang kelihatannya taat dan mengerti hukum tetapi mengabaikan kasih terhadap sesama.

Selanjutnya dalam Matius 11:28 dikatakan Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Atau dalam Bahasa aslinya “Perhentian”. Jadi jelas ketika kita datang dan masuk dalam hadirat Tuhan dengan iman dalam perhentian-Nya maka Dia akan “memberkati” dan “menguduskan”. Sabat bukan soal hari dimana kita tidak melakukan apa-apa tetapi lebih dalam lagi Yesus adalah Sabat dimana Dia mau kita datang meluangkan waktu masuk dalam hadirat-Nya menyembah Dia dengan Iman maka Dia akan “memberkati” dan ketika kita ada dalam pergumulan baik itu masalah keluarga, pekerjaan dimana kita tidak sanggup lagi mengandalkan kekuatan kita sendiri. Yesus berkata, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Artinya ketika kita datang kepada Yesus dengan Iman dalam Roh Dia akan memberikan Sabat buat kita yaitu “menguduskan” kita. Dan untuk menjadikan kita kudus bukan sekedar kita datang dalam hadirat Tuhan menyembah Tuhan saja tetapi yang pertama kita perlu mengambil waktu untuk membaca firman Tuhan.

Dalam Efesus 5 dikatakan firman Tuhan itu seperti air yang menyucikan. Itu akan menyucikan setiap karakter hidup kita yang tidak benar di hadapan Tuhan. Namun kita bukan hanya sekedar membaca firman Tuhan tetapi melakukan dan menaati setiap firman yang telah kita baca. Karena dalam kitab Ibrani 4:1-11 yang telah kita baca berkata bangsa Israel sudah diselamatkan, sudah menikmati begitu banyak berkat mujizat tetapi mereka tidak berjalan dengan iman sehingga mereka tidak masuk kedalam pemberhentian. Dalam menaati dan melakukan firman Tuhan itu akan membuat kita dewasa dan bertubuh dalam iman sekalipun kita ada dalam masalah dan persoalan. Memang ini tidaklah mudah untuk dijalani karena kita bukan hanya sekedar masuk dalam hadirat Tuhan berdoa, menyembah Dia, membaca firman Tuhan tetapi kita harus melakukan firman Tuhan.

Jika kita melekat kepada Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib untuk saya dan saudara, apapun persoalan, pergumulan Dia akan memampukan saya dan saudara untuk belajar hidup sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Sangatlah penting respon kita, sukacita, pengucapan syukur itu ditujukan kepada Yesus Kristus yang adalah Sabat kita, di situlah kita di”berkati” dan “dikuduskan”. Kenapa anak Tuhan masih menjadi batu sandungan ketika mereka diijinkan masalah? karena Sabat mereka keliru fokusnya bukan Tuhan Yesus tetapi hanya menyalahkan orang lain. Tetapi ketika kita fokus pada Yesus yang adalah Sabat apapun persoalan dan beban hidup kita mari kita datang kepada Yesus, Dia akan “memberkati” dan “menguduskan” kita. Itulah tujuan dari pada Sabat. Amin.

Sumber: Warta Jemaat Gereja Duta Injil 22 September 2019