Tuhan Kekuatan di Tengah Pergumulan

Habakuk 3:14-19

Nabi Habakuk berteriak kepada Tuhan menyaksikan kelaliman dan pelanggaran hukum serta segala kejahatan yang terjadi pada masa pemerintahan raja Yoyakim (608-598 SM). Yoyakim diangkat paksa oleh Firaun Nekho dari Mesir menjadi raja atas Yehuda menggantikan abangnya, Yoahas. (Habakuk 1:2-3). Perbuatan Yoyakim adalah kejahatan semata-mata di hadapan Allah. Ia sendiri merusak reformasi bangsa yang telah dilakukan ayahnya, raja Yosia, dalam kehidupan sosial dan agama mau pun peribadahan di bait Allah. Untuk membayar upeti kepada Mesir, ia mengenakan pajak yang sangat tinggi kepada rakyat. Tentunya ini mengakibatkan kesengsaraan yang sangat berat bagi rakyat, bahkan penindasan di antara sesamanya.

Kejahatan berkembang biak dan bertambah banyak. Penduduk tidak lagi melakukan pekerjaan dan usahanya. Para petani dan peternak juga tidak lagi mengerjakan lahannya, sebab hasilnya dirampas pasukan asing yang telah menduduki negeri. (3:17) Nabi Yeremia memberitakan penghukuman Allah, dengan membangkitkan orang Kasdim dari Babilonia yang terkenal bengis dan kejam. Oleh ketangkasan tentaranya mereka meratakan semua yang menghalangi jalan. (Habakuk 1:6-11) Mereka memandang rendah semua bangsa, juga Mesir yang menjadi sandaran Yoyakim. Namun Yoyakim yang diingatkan Yeremia agar menyerah kepada Babel, malah membakar kitab nubuatan nabi Yeremia yang dibacakan kepadanya. (Yer 36:1-32)

Nabi Habakuk tidak dapat menerima realita yang menimpa bangsanya tersebut. Mereka menjadi olok-olokan dan sindiran oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Menyaksikan semua keadaan tersebut, Habakuk seolah tak percaya. Hatinya bertanya-tanya kepada Allah, mengapa Tuhan membiarkan kekejaman itu terjadi atas umat-Nya? “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus?” (Habakuk 1:12-17) Demikian keluhnya dalam doa. Namun pada bagian akhir permenungan doanya, nabi Habakuk menyatakan iman percayanya akan Tuhan Allah. Sebagaimana nenek moyang mereka telah diselamatkan Allah dalam banyak peristiwa sepanjang sejarah, ia yakin dan percaya bahwa Tuhan Allah juga dapat menyelamatkan mereka. Karena itu, ia akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan mereka. (ay 18-19)

Kenyataan sedemikian bisa saja terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Perebutan kekuasaan antar bangsa menimpa negara-negara berkembang seperti kita di antara perang dagang AS vs China. Pertarungan politik antar kelompok memaksa dan menjerumuskan rakyat dalam perbuatan kejahatan, seperti saat-saat kampanye Pemilu dan Pilkada/Pileg. Dalam pertarungan orang-orang ambisius berebut jabatan dalam gereja juga bisa menjerumuskan umat dalam segala bentuk kampanye dan permainan “suap”. Saat-saat seperti itu semua yang terlibat tidak lagi takut berdosa. Bahkan sudah menjerumuskan umat dalam kubangan nikmatnya dosa.

Maka orang-orang yang tulus hati dan yang tidak mengerti apa-apa akan menjadi korban keserakahan dan bahkan semakin menjadi antipati. Kebenaran akan tersisih. Jalan hidup telah tercemari “budaya anomali” dan logika terbalik yang mematikan hati nurani. Kaum pecundang berjaya dan bergaya pongah di podium-podium kekuasaan bahkan di atas altar Tuhan. Maka di sinilah kita diajak berdiri, menatap dan berteriak kepada Tuhan sama seperti nabi Habakuk. Bahwa orang beriman dan yang tulus hati tidak akan goyah. Kita akan tetap beria-ria memuji Tuhan Allah yang adalah Penyelamat kita. Sekali pun akibatnya segala usaha dan perbuatan kita tidak berbuahkan apa, namun kita akan bersorak-sorak di dalam Tuhan. Sebab Dialah kekuatan kita. Ia sanggup membuat kita seperti rusa, yang dengan kakinya berjejak dan melompat-lompat di antara celah bukit-bukit terjal. Amin.

Sumber: Warta Jemaat HKBP 4 Agustus 2019