Hal Berdoa

Ada satu hal yang sangat penting yang harus kita miliki ketika kita mendengarkan Firman Tuhan. Hal itu adalah kejujuran. Kita membuka hati kita untuk dikenali Tuhan agar sikap hati dan pola berpikir kita yang salah diperbaharui oleh firman Allah. Dalam hal berdoa juga berlaku sama. Ada banyak orang yang menyamakan doa itu permintaan karena kita sering dinasehati untuk berdoa jika sedang membutuhkan sesuatu. Itu adalah konsep doa agama-agama lain pada umumnya yang telah diadopsi oleh anak-anak Tuhan yang membuat mereka tidak mengerti doa yang benar yang diajarkan Allah.

Doa itu bukan sekedar permintaan! Meskipun dalam Injil Matius 7:7-8 Alkitab berkata “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Kita jangan menjadikan kalimat ini sebagai password, seperti Harry Potter yang sedang membaca mantra untuk menemukan harta karun. Jika kita menganggap ayat ini sebagai sarana memaksa Tuhan untuk mengabulkan doa-doa kita, maka Allah tidak menjadi Allah. Kitalah yang akan menjadi Allah dan Allah akan menjadi kita. Kita yang seharusnya diatur Tuhan, bukan Tuhan yang diatur kita! Oleh sebab itu, jika kita mempelajari hal doa, janganlah hanya mencomot satu dua ayat saja, lihat juga konteksnya.

Dalam Matius 7:9-11 Alkitab berkata, “Adakah seseorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Ini adalah ayat-ayat yang hendak menegaskan apa sebenarnya doa itu. Tuhan Yesus sedang menunjukkan pada kita bahwa tidak ada ayah yang memberi batu ketika anaknya minta roti. Tidak ada ayah yang memberikan ular ketika anaknya meminta ikan. Jika anaknya minta roti, pasti diberi roti. Jika anaknya minta ikan, pasti diberi ikan. Yang menjadi persoalan di sini adalah, apakah jika anaknya minta batu akan diberi batu? Dan jika anaknya minta ular akan diberi ular? Ya tentu tidak, Tuhan hanya akan memberikan apa yang terbaik menurut-Nya. Itulah maksud dari keseluruhan ayat-ayat ini.

Di sini jelas bahwa Tuhan tidak bisa diatur. Kalau anak-anak-Nya minta sesuatu yang menurut pandangannya itu baik dan memang dibutuhkan oleh anak-anak-Nya, Tuhan pasti memberikan sesuai dengan waktunya. Tapi jika apa yang diminta itu tidak baik menurut pandangan-Nya, sampai kapan pun Ia tidak akan memberikannya. Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Tuhan. Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi kita. Untuk itulah mengapa Tuhan pasti menjawab permintaan kita, sekalipun Ia menjawab “tidak” terhadap permintaan kita.

Camkan apa yang saya katakan ini: Tuhan memberikan apa yang terbaik. Iblis memberikan apa yang kita minta. Mana yang saudara pilih? Pasti pemberian yang terbaik bukan? Tapi itu tidaklah gampang, karena kita sudah terbiasa dengan gaya hidup “semau gue”. Oleh karena itu jika kita berdoa, jangan hanya mengajukan permintaan, tetapi juga kita mau mendengar apa yang ingin Tuhan katakan kepada kita. Doa itu adalah dialog antara kita dengan Tuhan. Bukan pemaksaan kehendak kita terhadap Tuhan.

Dikutip dari Warta Jemaat Rehobot Ministry 21 Juni 2009

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>